SMK AL-KHAIRIYAH BAHARI Tanjungpriok

Maju dengan PRESTASI menuju ridho ILAHI

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

AKU PLUS ALLAH CUKUP (dari buku Jalan Keindahan dan Kemuliaan Menuju Allah Karya : Adnan M.K)

Oleh Admin 17-09-2013 07:48:22

Manusia apabila diberikan kekayaan berupa ladang-ladang emas, ribuan peternakan ia miliki, rumah yang mewah, anak-anak yang banyak, pasangan hidup yang indah, semua perbendaharaan ia miliki, niscaya dia akan mencari lebih banyak lagi perbendaharaan dunia, kecuali apabila mulutnya sudah tersumbat tanah/meninggal dunia.

Konsep dunia sangat jelas, seperti filosofi seseorang yang meminum air laut, semakin sering meminum air laut itu semakin haus dibuatnya. Dunia yang sangat indah dan mempesona, dibalut dengan keserakahan nafsu durjana, memandang dengan standar srigala akan membuat alam menjadi neraka dibuatnya. Lalu apakah yang harus kita miliki dan lahirkan untuk dapat menjadikan dunia ini sebagai ladang bersemayamnya amal dahsyat, bergulirnya dunia dengan pesona kearifan hati, mengalirnya air suci dan mensucikan jiwa, bangkitnya kehidupan mulia, luasnya pandangan mata batin, lebih bernilainya kehidupan, serta lebih aktifnya sinyal ma’rifatullah. Satu yang kita tuju keberadaan Allah Swt dalam hati yang jernih, suci dan bersih. Bayangan dunia dengan seisinya yang sangat besar dan dahsyat itu ternyata semua kunci-kuncinya ada pada tangan Allah Swt, Allah telah menundukan semuanya untuk kebaikan dan kemaslahatn umat manusia. Sebagaimana Firman Allah Swt., “Allah-lah yang menundukan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menundukan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir”. (QS. Al-Jatsiyah: 12-13)

   Tinggal apakah kita bisa mengambil hati Allah, membuat Allah tersenyum, membuat Allah bangga, membuat Allah senantiasa bertahta dalam hati sanubari kita, membuat Allah Ridha kepada kita,  Maka Aku Plus Allah Cukup.

Rasulullah Saw. Senantiasa cukup dengan kehadiran Allah, bahkan hari-hari yang beliau lalui, hampir jarang memiliki harta benda disisinya. Pernah suatu ketika Rasulullah Saw,   sehabis sholat beliau bergegas keluar pulang kerumah, pemandangan seperti ini nyaris belum pernah disaksikan oleh para sahabat-sahabatnya. Maka ketika Rasulullah kembali ke Masjid para sahabat menanyakan,”Apa yang membuat Engkau gusar ya Rasulullah? Rasul menjawab, “Sehabis sholat saya teringat di rumah ada beberapa dirham uang, maka saya pulang, dan uang itu sudah Saya bagikan kepada orang yang berhak menerimanya. Alhadulillah sekarang saya tenang.” Rasul tenang dengan tidak adanya harta yang dimilikinya karena Allah sudah cukup baginya, kita sebaliknya tidak tenang tatkala tidak ada uang disaku/dompet kita, karena ketiadaan Allah  dalam hati dan jantung kita.

Di Thaif yang tiba-tiba ramai, orang-orang berhamburan keluar. Mengusir sosok mulia yang datang dengan niat yang mulia. Rosulullah yang khusus datang ke tempat itu  untuk menyampaikan ajaran Islam, justru disambut dengan lemparan batu, cacian dan dikejar-kejar layaknya seorang pesakitan. Sahabat Zaid bin Haritsah RA sudah berusaha sekuat tenaga melindungi tubuh Rasul dari lemparan batu. Tapi ia pun kewalahan, hingga ia sendiri mengalami luka di kepalanya. Maka Rosulullah pun terluka. Tidak saja fisiknya, tapi juga hatinya.

                 Darah Rosulullah sosok manusia paling agung itu mengalir, menyela butir-butir pasir tanah Thaif yang gersang. Rosulullah berlari sambil terseok-seok menghindari lemparan batu yang terus mengejarnya hingga ia berlindung di sebuah kebun milik Uqbah bin Rabi’ah. Dalam kondisi payah itu, sambil menahan sakit ia bermunajat kepada Allah, mengadukan segala yang ia terima dari orang-orang yang tak mengerti itu.  Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka padaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku.” 

Rasulullah SAW. Adalah manusia yang memiliki kualitas moral paling baik sepanjang jaman. Namun dihamparan tanah Thaif, Rasulullah SAW. Mengalami kejadian yang sangat menyesakkan dada. Itulah alur hidup dan jalan perjuangan yang memang yang harus dilaluinya.

                 Tetapi yang harus dicatat, dalam suasana yang sangat pahit seperti itu, Rasulullah mengajarkan betapa masih ada tempat mengadu yang segar disaat yang lain menyakitkan. Tempat mengadu yang lapang disaat yang lain sempit, yang berkenan mendengar disaat yang lain menutup telinga. Tempat mengadu itu Allah SWT.  Maka untaian pengaduan Rasulullah dalam munajat tidak saja deklarasi tentang kebergantungan kepada Allah SWT, tapi juga pencarian jawaban akan rasa tentram dari keseluruhan peristiwa yang sangat menyakitkan. Karenanya, di akhir do’a itu Rasulullah SAW menegaskan, bahwa jika Allah tidak murka, maka semua kepahitan itu akan ia hiraukan. Inilah yang dimaksud jawaban ketentraman dibalik kepahitan itu. 1

                 Al-Qur’an senantiasa mengingatkan kita untuk mulai berangkat menuju Tuhan. Allah SWT. Berfirman, oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah (QS.Al-Dzariyat : 50). Al-Qur’an tidak hanya menyuruh kita berjalan, tetapi ia bahkan memerintahkan kita berlari kepadanya. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan pergi menuju Tuhan dengan cara berjalan. Kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir. Kita harus berlari dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada yang satu, Allah SWT., sebuah Hadits Riwayat Ahmad dan Thabrani berbunyi, “Barang siapa mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatnya sehasta. Barang siapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari.” Balasan dari Allah selalu lebih hebat daripada apa yang kita lakukan. Dalam Al-Qur’an surat Luqman, ayat 15, Allah SWT juga berfirman, ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Kulah kembalimu. Lalu aku memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

                 Perjalanan menuju Tuhan harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Hati kita sering dikotori dengan dosa yang kita lakukan. Dosa-dosa itu menghijab kita dari Tuhan. Mereka yang mampu berjumpa dengan Tuhan adalah mereka yang membawa hati yang bersih; bukan yang membawa harta dan anak-anaknya.

                 Dalam bahasa arab, Kata tazakka yang berati menyucikan diri, juga berarti “tumbuh”. Oleh karena itu, didalam Islam, pertumbuhan seseorang diukur dari tingkat kesucian dirinya. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pulalah derajatnya.2

                 Bertambah sering ia beraudensi (ber-tawajjuh) atau bertatap jiwa dengan Sang Khalik, bertambah beninglah hati. Dan hati yang bening (qolbun salim) adalah penasehat  paling jujur untuk kita dengarkan. Rasakan kelezatan iman yang keluar dari getaran cinta Ilahi itulah suara hati-the voice of heart!

                 Hati adalah kerajaannya orang mu’min. Suatu saat Rasulullah SAW memberi nasehat kepada Wabhishah bin Ma’bad al-Aswadi seraya bersabda: “Mintalah fatwa pada hatimu, mintalah fatwa pada hatimu wahai Wabishah (Nabi mengulang sampai  tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang, Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada”. (HR.Ahmad)

                 Untuk mengenal Tuhan manusia harus dengan sengaja dan bersungguh-sungguh mengambil tempat (positioning) dalam ke-Ilahian artinya dia harus menjadi manusia satu dimensi yaitu hanya mengaktualisasikan, menghidupkan nurani dan Qolbunya semata. Ia harus mengenal siapa dirinya. Sebagaimana sebuah ungkapan indah mengatakan “Man arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu’- barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”  Dalam upayanya mengenal diri, ia menyadari bahwa dirinya sedang menuju kepada satu arah. Pandangan batinnya mengarah kepada satu muara yang tidak lain adalah Allah!  Sehingga pupus punah segala kebutuhannya pada selain Allah, karena Allah semata-mata tumpuhan hidupnya.3

Adakah yang lebih penting dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Sebab dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sanalah ama-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Bila ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktifitas fisik pemiliknya, sebaliknya bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.4

Untuk menjadikan kesucian, kebaikan hati manusia serta menjadikan Allah segala-galanya, serta cukup terhadap segala nikmat yang diberikan-Nya adalah dengan jalan syukur dan sabar.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa syukur merupakan salah satu maqom (stasiun/tahapan) yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Demikian juga kalimat syukur (Al-Hamdulillah), menempati tempat tertinggi dibanding dengan kalimat tahlil (laa ilaaha Illallah) dan tasbih (subhanallah). Keutamaan kalimat tahmid ini, masih menurut Al-Ghazali, karena tidak hanya mengandung makna pengkudusan kepada Allah SWT,  tetapi memiliki makna tauhid yang didalamnya terkumpul kemampuan bekerja yang sempurna. Rasulullah SAW, bersabda “Barang siapa yang mengatakan subhanallah, ia mendapat sepuluh kebaikan. Barang siapa yang mengatakan laa ilaaha illallah, mendapat dua puluh kebaikan. Dan barang siapa yang mengatakan Al-hamdulillah ia mendapat tiga puluh kebaikan.”5

Hakikat pertama syukur adalah ilmu, yakni mengenal dan menyadari nikmat dari pemberi nikmat. Bersyukur hendaklah diawali dengan kesadaran penuh, betapa besar nikmat dan anugerah-Nya. Bahwa nikmat itu datangnya hanya dari Allah SWT, Sang Pemberi nikmat hakiki, sedangkan yang lain hanya perantara yang tidak berarti jika ditinjau dari sudut Tuhan sendiri. Allah berfirman kepada Nabi Daud as; “Kalau engkau telah menyadari bahwa apa yang engkau nikmati bersumber dari-Ku, maka engkau telah mensyukuriku.”

Hakikat ke dua syukur adalah hal, yakni keadaan atau kegembiraan yang terjadi saat nikmat itu diterima. Hakikat syukur adalah keadaan gembira yang meliputi seluruh jiwa dan raga. Kegembiraan ini hendaknya tertuju kepada Pemberi Nikmat (subyek), bukan nikmat yang diberikan (obyek) dan bukan pula kepada pemberi nikmat tersebut (proses). Artinya seorang bergembira karena dengan nikmat tersebut ia dapat lebih dekat kepada-Nya dan memudahkannya bermunajat dan bersujud kepada-Nya.

Inilah kegembiraan hakiki yang menjadikan hati tawadhu’( rendah hati) dan khudhu (tunduk). Asy-Syibli dalam salah satu syairnya berkata, “Syukur ditujukan kepada yang memberi nikmat bukan kepada nikmatnya.”

Hakikat ketiga Syukur adalah amal, yakni tindakan untuk melaksanakan apa-apa yang menjadi keinginan si pemberi nikmat. Syukur adalah amal perbuatan yang muncul dari kegembiraan dan kesadaran kepada Allah SWT. Amal perbuatan ini berhubungan dengan hati, lisan dan anggota badan. Amalan dengan hati adalah keinginan untuk berbuat baik kepada setiap makhluknya. Amalan dengan lisan adalah memperbanyak pujian-pujian kepada Allah SWT dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah dan berdo’a. 6

Tiada anugerah dan keuntungan yang besar kecuali bagi yang mau sabar dan tiada yang diberi sabar melainkan orang yang memiliki keuntungan yang besar, mereka sabar bersama esensi hakikat kebenaran (berdasarkan prinsip iman dan ilmu yang benar) harta yang banyak dan takkan pernah habis, kamaa shodaqollahu qoola,” maa indaka yanfadu wamaa’ndallahi baaqin, maksudnya jika kamu bercita-cita pada banyaknya harta sebagaimana sangkaanmu bahwa harta akan menenggelamkan hidupmu penuh nikmat dalam kesenangan terus menerus takkan putus, ”jauhilah-jauhilah/tidak masuk akal, sedangkan apa yang disisi Allah itulah yang abadi dan patut dicita-citakan, karena harta dunia itu laksana ular berbisa kalau kita hanya pegang kepalanya maka ekornya akan menampar, melilit membahayakan kita, sedangkan kalau hanya pegang ekornya maka kepalanya akan mengantup dan bisanya akan membahayakan juga, dan hanya pawang ular yang memiliki dan memegang jimat kebenaran tauhid dan sabar bersamanya yang akan aman dari bahayanya, karena pawang itu dapat memegang keduanya dan menguasainya sehingga ular dan bisanya menjadi manfaat  dan kesenangannya sampai akhirat berkat kesungguhan pawang memegang jimat tauhid.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Dituturkan bahwa Nabi saw. Bersabda:

“Sesungguhnya Allah memelihara hamba-Nya yang mukmin dari dunia. Allah memeliharanya seperti kalian menjaga seorang yang sakit dari makanan dan minuman yang dikhawatirkan membahayakan dirinya.”7

Allah menjaga hamba ini dari tipu daya syahwat dan kesenangan dunia, agar hatinya tidak dijangkiti oleh suatu penyakit yang muncul karena mencintai dunia. 8

Penjagaan ini demi meraih kesudahan yang terpuji dan suatu keadaan yang akan membawa kebahagiaan. Karena tidak sedikit curahan kesenangan dunia yang diterima seseorang merupakan istidraj (siksa yang ditangguhkan) dari Allah, bukan tanda pemuliaan dan cinta bagi orang yang menerimanya.9

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Tarbawi, Edisi 46th 4/Sya’ban 1423 H/ 24 Oktober 2002. Hal. 6

2. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Allah, 2007.Mizan hal.69

3. KH. Toto Tasmara, The Voice Of Heart, Pustaka Al-Mawardi, 2010. Hal.28-29

4. Tarbawi, Edisi 25 Th.3/ 31 Oktober 2001/sya’ban 1422H. Hal.6

5. Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, 1993, kairo Darul Mustofaal-Halabi.

6. Amirullah Syarbini & Jumari Haryadi, Dahsyatnya Sabar, Syukur, Ikhlas Muhammad SAW. 2010. Ruang Kata. Hal.55

7. Diriwayatkan oleh Hakim IV/208, disepakati dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi. Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi nomor 2036, dari Qotadah bin Nu’man,Ibni Hibban nomor 2474. Sementara jalur ahmad diriwayatkan melalui Mahmud bin Labid.

8. Faidhul –Qodir, 1/246

9. ‘Uddatush-Shobirin, hal. 246